Aku; Mahasiswa Tingkat Akhir

Ini semester akhir ku di kampus, empat tahun berlalu begitu saja tidak terasa sama sekali. Tidak pernah terdeteksi salahnya dimana tapi aku merasa masa-masa menuntut ilmu di bangku perkuliahan jadi sangat cepat berlalu. Begitu fikirku, sebelum demam skripsi membakar habis semangat dan mental ku.

Pada tahun terakhir ini, but wait.. I mean semester terakhir, wait.. wait.. bahkan semester terakhir pun baru saja berlalu beberapa minggu yang lalu. Skripsi ku masih tidak terlihat batang hidungnya, sebenarnya bukan skripsi yang tidak dapat kutemukan bukan dia yang menghilang tapi semangat dan motivasi ku untuk menuntaskannya yang benar-benar sudah pergi jauh, mungkin sudah ke angkasa terbang meninggalkan aku yang terengah-engah mengejarnya.

Kalau diceritakan memang terbaca sedikit berlebihan dan mungkin juga memuakkan karna ya begitulah yang saat ini dan beberapa waktu lalu aku rasakan, tapi percayalah teman skripsi bagi ku tidak seperti skripsweet bagimu. Jika boleh jujur aku akan bilang "skripshit" setiap kali harus menyebutkan kata skripsi. Tidak usah diperjelas, aku sangat paham kalian anggap apa aku saat ini, saat kalian membaca curhatan hati dari seorang mahasiswa tingkat akhir yang dibuat galau oleh bab-bab yang menuntut lebih dari sekedar kemampuan.

Sejujurnya bukan tidak ada hal yang aku lakukan untuk mengejar semangat dan motivasi yang sudah mengawang ke angkasa itu. Beberapa bulan setelah sidang judul aku memutuskan untuk pergi liburan terlebih dahulu bersama rekan-rekan kampus ku. Menghabisakan tiga hari dua malam di pulau yang tidak begitu jauh dari kampus ku berada. Maksud hati setelah pulang liburan "kembalilah kau wahai semangat dan motivasi, kembali lah pada raga yang kekosongan ini.." ujarku pada batin. Aku merasa itu sudah sangat cukup jadi api pemantik untuk membakar semangatku. Jangan berharap banyak, nyatanya aku tetap saja enggan menyentuh tumpukan kertas revisi skripshit ups.. I mean skripsi itu.

Aku merasa gagal mengelola mood dan pola belajarku, dulu kakak kelas pernah bilang bahwa "Skripsi itu bukan soal siapa yang lebih pintar, skripsi itu soal siapa yang lebih rajin" do you get the point dude?? Aku sangat paham barisan mahasiswa yang tidak kunjung mencapai garis finish dalam mengerjakan skripsi itu bukan lah mereka yang tidak memiliki kemampuan, tapi mereka yang seluruh hidupnya dipenuhi dengan ke-ma-ge-ran. Karna aku, pernah berada pada barisan itu.

Yap! Exactly! Tepat Sekali! Sangat Benar! Mager itu racun teman-teman. Bagi kalian yang belum tertular virus itu maka menjauhlah dari mereka yang sudah terinfeksi, termasuk aku. 

Sampai pada titik dimana aku tertampar habis-habisan, dikeroyok kenyataan, dan babak belur menghadapi tantangan yang terpampang jelas dan sangat nyata di depan; jadwal wisuda dimajukan jauh dari perkiraan awal, tentu saja aku setengah mati kebingungan. Skripsi ku masih jauh dari ambang penyelesaian, mau ku apakan?

Jika tidak kuselesaikan saat ini juga (yang mana artinya deadline 10 hari sebelum batas akhir pendaftaran sidang skripsi) maka aku akan menjadi orang yang paling menyesal. Aku tidak akan bisa wisuda tepat waktu, tidak bisa merasakan wisuda bersama rekan-rekan yang selama empat tahun selalu bersama, tidak bisa lekas melamar pekerjaan, plus bonus akan di ceramahi habis-habisan oleh ibunda tercinta.

*Barusan aku merinding*

Membayangkannya saja aku meneteskan air mata, jujur aku ketakutan. Batin ku berkelahi hebat dengan akal fikiran. Aku hanya ingin bilang "Tuhan tolong berikan mahasiswa satu ini jalan dan kemudahan.."

Kalian tau teman-teman? tuhan begitu cepat menjawab do'a ku, dia tarik kembali semangat dan motivasiku jauh-jauh dari luar angkasa, dia buat aku membayangkan betapa sedihnya bunda kalau aku sampai wisuda tidak tepat waktu, seketika mataku panas.. sadar tidak sadar aku bisa merasakan nadi berdenyut lebih cepat dan jantung jadi lebih giat memompa darah, iya.. iya.. aku tau ini terbaca lebay tapi memang begitu saat itu kondisinya teman.

Hingga sampailah aku pada waktu dimana aku menulis bacotan ini, sedang menikmati segelas Tiramisu Latte yang dibubuhkan es batu di dalamnya sambil didendangkan melodi-melodi yang jangan tanya siapa penciptanya, menunggu kerabat yang sedang menonton film Man in Black di XXI dan tentunya setalah dari kampus bertemu dengan pembimbing. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bimbingan.

Meskipun pada awalnya aku bahkan terancam hampir sidang judul ulang saran pembimbing ku, hampir tidak bisa melanjutkan untuk mengolah data, hingga harus mengurus persetujuan ke dosen koordinator skripsi untuk melanjutkan penelitian, lalu diceramahi di sana-sini. Dari rumah aku sudah membulatkan tekad, hari ini hari pertama ku menyentuh kembali bagian yang sudah lama aku tinggalkan jadi meski seberat apapun aku harus siap menghadapinya. Pelan-pelan aku selesaikan permasalahn yang ada, meyakinkan dosen bahwa aku layak untuk melanjutkan penelitian dengan mengolah data tanpa perlu sidang judul lagi. Alhamdulillah.. dimana ada usaha disitu ada jalan.

Hari ini aku membuktikan bahwa siapa dan bagaimana pun kita, setiap kita punya kesempatan kedua. Asal.. kita mau dan berusaha. Sekecil apapun tenaga dan fikiran yang kita korbankan itu adalah bentuk usaha, setelahnya ya jangan lupa berdo'a. Tuhan ingin kamu pulang pada pelukannya dan mengadukan semuanya. Skripsi ku mungkin memang belum mencapai garis finish tapi aku sedang berlari kesana. Saat ini aku ada pada barisan mereka yang bergegas menyelesaikannya. Aku percaya aku mempu.

Iya.. iya terimakasih teman karna sudah ikut mendo'akan, luv.

Comments

Post a Comment